Penduduk RI Menuju Menua

Jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia akan melonjak pada 2030 atau setelah masa bonus demografi selesai. Saat itu, satu dari tujuh penduduk Indonesia berumur lebih dari 60 tahun. Meski memiliki sejumlah risiko, lonjakan penduduk lanjut usia itu belum diantisipasi.

Tahun 2016, Indonesia punya 22,6 juta lansia atau 8,75 persen penduduk dengan umur tengah 28 tahun. Namun 14 tahun lagi, jumlah itu akan naik jadi 41 juta orang atau 13,82 persen penduduk dengan umur tengah 32 tahun. Jadi pada 2030, Indonesia akan memiliki populasi menua (ageing population).

Menua adalah proses alami yang dihadapi semua bangsa. Meningkatnya usia harapan hidup, membaiknya layanan kesehatan dan naiknya derajat kesejahteraan membuat jumlah lansia bertambah. Namun, lansia identik penurunan fungsi hidup yang bisa membuat lansia jadi beban.

"Indonesia belum siap hadapi lonjakan lansia," ujar peneliti Lembaga Demografi Universitas Indonesia (LDUI), Dwini Handayani, seusai Diseminasi Hasil Penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Pusdu BKKBN) di Jakarta, Rabu (22/2).

Ketidaksiapan itu tecermin dari rendahnya anggaran, program terbatas, dan pembangunan infrastruktur belum ramah lansia. Itu adalah buah dari kurang teperhatikannya lansia oleh pemerintah pusat dan daerah. Hal itu menjadikan lansia sebagai beban baru bagi bangsa pada masa depan karena kurang produktif, kerap sakit, dan tanpa jaminan kesejahteraan memadai.

"Pembangunan fokus ke warga usia produktif agar siap jadi lansia dan bonus demografi termanfaatkan," ucap Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan BKKBN Sanjoyo.

Rendahnya perhatian kepada lansia juga tecermin dari sedikitnya hak lansia terpenuhi meski dijamin Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia. Hak bekerja, mendapat pendidikan dan pelatihan, kemudahan penggunaan fasilitas umum, serta bantuan hukum dan sosial dinilai amat kurang.

Sejauh ini, lansia umumnya baru mendapat hak layanan keagamaan dan kesehatan. Program bina keluarga lansia dan posyandu lansia adalah program lansia yang digerakkan pemerintah meski belum merata.

Harus bekerja

Terabaikannya hak lansia membuat kesejahteraan mereka rendah. Survei Angkatan Kerja Nasional 2014 menunjukkan, 47,48 persen lansia bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup.

Lansia sebaiknya tetap diberi kesempatan bekerja untuk aktualisasi diri dan kesehatan emosinya. Namun, banyak lansia harus bekerja karena desakan ekonomi atau menjadi tempat bergantung keluarga lain.

"Sebagian besar lansia yang bekerja umumnya berpendidikan rendah," kata peneliti Pusdu BKKBN, Arga Nugraha. Persoalannya, mereka kebanyakan bekerja di sektor informal yang jaminan kesejahteraannya lebih rendah dan amat terbatas sektor formal yang mau menerima mereka.

Namun, banyak lansia tak siap menghadapi persaingan di sektor informal. Saat produktif, banyak lansia tak disiapkan dengan pelatihan sesuai kondisi mereka saat menua. Di sisi lain, ceruk pasar tenaga kerja sektor informal diperebutkan angkatan kerja yang tak terserap sektor formal.

Di tempat terpisah, Guru Besar Ekonomi dan Sumber Daya Manusia Universitas Krisnadwipayana, Jakarta, Payaman Simanjutak mengingatkan, banyak pensiunan pekerja formal tak siap menghadapi persaingan sektor informal saat pensiun. Jadi, pensiunan perlu dibekali keterampilan agar tetap aktif.

"Dengan usia harapan hidup 68 tahun bagi pria dan 72 tahun untuk perempuan, ada 8-12 tahun bagi mereka tetap bekerja," katanya. Selain itu, pemerintah perlu menciptakan lapangan kerja tertentu khusus bagi lansia.

Makin banyak sendiri

Selain itu, perubahan struktur penduduk pada masa depan akan memengaruhi kesejahteraan lansia. Riset LDUI menunjukkan, jumlah lansia tinggal sendiri atau berdua dengan pasangan pada 1995-2014 kian banyak. Pada 2014, lansia yang tinggal sendiri 9,66 persen, lansia tinggal dengan pasangan 13,10, dan yang tinggal dengan orang lain 12,21 persen.

Mereka yang tinggal sendiri lebih banyak perempuan dan di desa. Lansia yang tinggal dengan anak umumnya berpendidikan tinggi dan di kota demi menghemat biaya hidup. "Sistem sosial di desa yang erat membuat lansia yang tinggal sendiri mendapat dukungan sosial," kata peneliti LDUI, Muhammad Isa.

Sejauh ini, merawat lansia di panti jompo masih ada resistensi di kalangan masyarakat. Peneliti LDUI, Rani Toersilaningsih, berharap ada tenaga layanan kesehatan di rumah yang merawat lansia saat tak ada anak-anak mereka. (DNE/MZW)

Versi cetak artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 23 Februari 2017, di halaman 14 dengan judul "Penduduk RI Menuju Menua".

Sumber:

http://health.kompas.com/read/2017/02/23/140000623/penduduk.ri.menuju.menua