Ketika Siswa SD Belajar Menulis Tentang Lanjut Usia

Serombongan belajar siswa-siswi kelas V SDN Iroyudan, Guwosari, Pajangan, Bantul, nampak sumringah bercampur penasaran. Pagi itu (13/12/2016) guru Bahasa Indonesia dan kami mengajak mereka untuk belajar kepada seorang Mbah Girah di Dusun Watugedug, Guwosari. Mereka penasaran karena belajar langsung kepada seorang lanjut usia ini merupakan yang pertama kali.

Menjelang berangkat, sekali lagi, kami hanya membekali mereka dengan; kita akan bertemu dan belajar dengan seorang simbah dan silahkan bertanya tentang apapun kepadanya. Bisa mengenai nama, umur, saudara, pekerjaan, dan lain-lain serta mengobservasi kondisi di sekitar rumahnya. Kalau simbahnya tidak mengerti bahasa Indonesia, bisa bertanya dengan bahasa Jawa yang halus. Dan, tugas kalian, tuliskan semua cerita simbah itu.

Di atas tikar alas lantai plesteran, di beranda rumah Mbah Girah, mereka sempat berebut tempat. Ingin lebih dekat dengannya. Hingga akhirnya mereka bisa melingkung dan mengerumuninya. Mbah Girah duduk di tengah-tengah mereka. Siap menjawab dan bercerita di hadapan mereka. 

Mulailah mereka bertanya bergantian: “Mbah namine sinten?”, “Umurnya berapa?”, ”Kerjaannya Apa?”, “Di rumah sama siapa?”, “Punya anak berapa?”, “Saudara berapa?”, “Cucunya berapa?”, dan seterusnya. Tapi Mbah Girah tidak paham maksudnya “kerja”, “punya”, dan beberapa kosa-kata dari pertanyaan mereka dan mereka kebingungan mencari bahasa Jawa halus dari kata-kata tersebut.

Akhirnya mereka bertanya kepada guru dan juga kami. Merasa pertanyaannya belum terjawab, di antara mereka ada yang mengulang tanya; ”Tiap dinten nyambut damel nopo Mbah?”, “Kagungan putro pinten Mbah?”, “Kagungan sederek mboten Mbah?”, dan Biyen sekolah mboten Mbah ”.

Mbah Girah menjawab pertanyaan mereka dengan cerita panjang dan suara cukup lantang. Hanya pertanyaan berikut dari mereka yang bisa menghentikan atau menghela ceritanya. Kalau tiba saat dihela seperti itu, ia terkesiap. Sekejap ia lupa alur ceritanya dan melempar tawa, memperlihatkan sisa gigi kecoklatannya. Anak-anak pun tertawa melihat simbah yang lucu alami.

Menjawab pertanyaan tentang usianya, Mbah Girah bercerita kalau saat Indonesia merdeka tahun 1945, ia sudah gadis, usia 16 tahun. “Silahkan ditambahkan saja, sampai sekarang,” katanya sambil terkekeh.

Tanpa menunggu pertanyaan berkutnya, ia pun bercerita tentang sejarah hidupnya pada masa penjajahan Jepang. Katanya, kehidupan waktu itu sangat memprihatinkan; bisa sekolah tapi tidak ada buku, baju yang dipakai terbuat dari karung goni yang gatal berkutu, makan katul, omah gedheg, lampu ting beling, dan seterusnya. Dia pun bercerita sekolahnya di masa penjajahan Jepang itu tidak sampai lulus karena memang kondisi yang tidak memungkinkan.

Sejurus kemudian Mbah Girah bercerita tentang “gendis” sebagai jajanannya di masa kecil dulu serta asal-usul "sendang" yang menjadi sumber kehidupan di desanya. “Seorang anak bertanya, ”apa itu gendis dan sendang?”. Guru pun menjawab, gendis itu gula dan sendang adalah mata air.

Begitulah, pagi di lembah itu, di beranda rumah sederhana itu, di balik lembah kawasan Goa Selarong itu, membuncah senyum berseling tawa suka-cita. Dari siswa-siswi kelas V SD itu, juga dari Mbah Girah. Kegiatan itu adalah simulasi pembelajaran dari “Program Cerita Kehidupan”. Setelah simulasi ini mereka akan melakukan kunjungan dan “wawancara” sendiri-sendiri kepada lanjut usia selain kakek-nenek mereka yang berada di lingkungannya sebanyak 3 kali dalam rentang 10 minggu. Mereka ditugaskan menuliskan hasilnya. Sebelum mereka, kelas V SDN Kembangputihan telah melakukan simulasi pada 07 Desember 2016.

“Kegiatan percontohan ini dilakukan di 3 SD, 2 SMP, dan 2 SMA/SMK di Kecamatan Pajangan. Selain memberikan reward kami juga akan bekerja sama dengan media cetak untuk mempublikasikan tulisan terbaik dari mereka. Di akhir program, Maret atau April 2017 nanti, kami berencana mengundang semua sekolah peserta dan pemangku kepentingan untuk mempresentasikan hasil kegiatan. Kalau ini berhasil kami berencana mengambangkan kegiatan yang sama dalam wilayah yang lebih luas,” jelas Titis Putri Ambarwati, koordinator pelaksana program.

Menurut Titis, tujuan utama kegiatan ini adalah upaya menumbuhkan penghormatan generasi muda kepada lanjut usia dan pembelajaran mereka dalam kehidupan kedepan. Program ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan “Komunitas Ramah Lanjut Usia” yang digagas SurveyMETER Yogyakarta merujuk hasil Studi Asesmen Kota Ramah Lanjut Usia (Age Friendly Cities) di 14 kota di Indonesia yang dilakukan pada 2013. (JF)

Sumber:

http://surveymeter.org/read/375/ketika-siswa-sd-belajar-menulis-tentang-lanjut-usia