Para Penggagas JALA Indonesia di Arena IUSSP

 

Oleh: Evi Nurvidya Arifin, PhD

International Union for Scientific Studies for Population (IUSSP) telah menyelenggarakan konferensi internasional kependudukan pada tanggal 26-31 Agustus 2013 di Busan, Korea Selatan. Seminar ini diselenggarakan secara berkala, per empat tahun. Seminar yang diikuti oleh berbagai pakar kependudukan dari banyak negara.

Pada acara tersebut beberapa penggagas JALA turut berpartisipasi dan mempresentasikan hasil penelitiannya. Dr. Ni Wayan Suriastini M.Phil dan Ibu Bondan Supraptilah MA hadir di sana menyajikan poster papernya yang berjudul Indicators of Age Friendly City for Planning and Policy Formulation: One Step Towards Age Friendly City in Indonesia. Paper tersebut merupakan salah satu upaya untuk memahami data di lapangan menuju tercapainya kota yang ramah lansia.

Salah satu sesi di acara IUSSP tersebut yaitu sesi yang diselenggarakan oleh Asia Population Association, asosiasi para pakar kependudukan Asia, yang mengambil tema Demographic Transition in Asia dengan dimoderatori oleh mantan presiden asosiasi, Mohammad Jalal Abbasi-Shavazi, PhD dari Universitas Tehran and Australian National University, menampilkan empat orang pembicara. Salah satu pembicara yaitu Evi Nurvidya Arifin, PhD yang menyajikan paper berjudul Age Structural Transition and Ageing Populaton in Asia. Salah satu intisari paper tersebut menyatakan bahwa penduduk Asia selalu dominan dan akan tetap dominan di dunia ini dengan  kontribusi diatas 50 persen. Tepatnya, penduduk Asia di tahun 1950 sebesar 55.3 persen penduduk dunia, kemudian mencapai puncaknya pada tahun 2000 dengan 60.7 persen dan akan menurun dan berada di 54.1 persen di 2050, bila kita mengikuti skenario median proyeksi penduduk PBB tahun 2013.

Paper tersebut menekankan, walaupun persentasi penduduk yang tinggal di Asia pada tahun 2050 bisa dikatakan relatif sama dengan persentase di tahun 1950, tetapi penduduk Asia masa depan akan sangat berbeda nyata, terutama terkait dengan struktur penduduk menurut usia. Didahului dengan Asia Timur, persoalan kelanjutusiaan akan makin dirasakan di beberapa dekade mendatang terutama di Asia Tenggara, disusul kemudian oleh Asia Barat, Asia Selatan, serta Asia Tengah.  Untuk mendapatkan manfaat yang positif dari masyarakat yang kontribusi penduduk lanjut usia makin meningkat, menua dengan aktif selayaknya terus dipromosikan.  

Ibu Evi juga menyajikan beberapa paper lainnya di acara IUSSP tersebut, yaitu paper berjudul Old and Poor: The Case of Elderly’s Poverty in East Java, Indonesia. Angka kemiskinan banyak tersedia, namun angka tersebut seringkali tidak dibedakan menurut umur padahal umur menentukan kapasitas, kapabilitas dan kemampuan sesorang dalam bekerja. Paper tersebut mencoba mengeksplorasi kemiskinan diantara para lanjut usia di Jawa Timur, khususnya di 2 kabupaten terpilih yaitu Malang dan Pacitan, serta di ibukota, Surabaya. Penelitian tersebut menggunakan data Susenas tahun 2002 dan hasilnya menunjukkan bahwa angka kemiskinan lanjut usia di perkotaaan, Kota Surabaya, jauh lebih rendah (5.2 persen) dibandingkan angka tersebut di Kabupaten Pacitan (22.2 persen) dan Kabupaten Malang (22.8 persen).

Paper lainnya yang dipresentasikan oleh Ibu Evi dan ditulis bersama dengan Prof Eef Hogervorst yaitu Elderly’s Self-Rated Health Status and Functional Capacity in Decentralizing Indonesia yang memperlihatkan bahwa sangat banyak kabupaten dan kota terutama yang terletak di luar Jawa dan Bali yang status kesehatan lansianya kurang baik, walaupun di sana persentase pendudi lanjut usia belum setinggi kabupaten/kota di Jawa dan Bali. Fungsi fisik seperti kemampuan melayani diri sendiri (ADL) yang dalam studi tersebut terdiri dari kememapuan untuk menggunakan toilet, mandi, berpakaian, makan serta juga menyiapkan makan, perlu mendapat perhatian dengan baik.  Ketidakmampuan diri untuk melakukan hal-hal tersebut diatas akan memberikan dampak pada anggota rumah tangga untuk bisa melayani kebutuhan para lanjut usia.

Disabilitas kemampuan melihat merupakan topik lainnya yang dibahas oleh Ibu Evi dengan Pak Aris Ananta PhD dalam papernya berjudul The Right to Sight: Distribution and Prevalence of Visual Disability in Indonesia. Berdasar data sensus penduduk tahun 2010 bahwadi Indonesia ada sebanyak 5.8 juta orang yang mengalam gangguan penglihatan. Jumlah tersebut cukup besar, sedikit melebihi total jumlah penduduk Singapura di tahun yang sama. Secara umum, distribusi penderita gangguan mata menurut umur berpusat di usia 50 hingga 74 tahun. Prevalensinya menurut umur membentuk  pola seperti huruf J, artinya makin tua prevalensinya main tinggi. Paper tersebut menekankan bahwa gangguan mata ini bisa dicegah dan juga bisa diobati/diperbaiki melalui tersedianya teknologi kedokteran yang terjangkau.

Konferensi IUSSP mendatang akan diselenggarakan pada tahun 2017 dengan negara penyelenggara antara Afrika Selatan atau India. Keputusan final di mana negara konferensi tersebut akan diselenggarakan, patut mendapat perhatian. Semoga kian banyak anggota JALA Indonesia yang bisa berpartisipasi di acara tersebut.

* Evi Nurvidya Arifin PhD, adalah peneliti di Centre for Ageing Studies (CAS) Universitas Indonesia dan peneliti tamu di Institute of Southeast Asian Studies, Singapore. Juga, penggagas JALA Indonesia.