Lanjut Usia Harus Tetap Berdaya

Oleh: Jen Fauzan

Konon, atas dorongan balas budi dan kasih sayang bercampur kasihan karena kelanjutusiaan, sejumlah anak sukses tidak memperbolehkan orangtua mereka untuk sekedar aktif di kegiatan sosial sambil membuka usaha kecil-kecilan dengan modal uang pensiunannya. Dalam keyakinan mereka, apapun keperluan orang tuanya akan tercukupi oleh anak-anaknya. Beberapa minggu kemudian, tetangga sekitar dan security kantor manjadi saksi; setiap pagi, di hari kerja, orang tua itu selalu berada di kedai seberang jalan kantor. Sekedar minum kopi sambil menghadap bangunan bekas kantornya. Satu jam kemudian, saat karyawan mulai sibuk dengan pekerjaan, ia kembali pulang. Barangkali, pada hati dan pikiran orang tua itu, ada sesuatu yang hilang dari keseharian.

Cerita pensiunan tersebut terjadi nyata di sekitar kita. Pensiun adalah satu kensekuesi kecil dari penuaan. Dan memang betul, penduduk dunia semakin tua, demikian dilaporkan WHO tahun lalu. Semula, banyak yang mengira bahwa hal ini hanya terjadi di negara-negara kaya. Ternyata, saat ini proses penuaan tercepat terjadi di negara-negara dengan penghasilan rendah dan menengah termasuk Indonesia. Dunia akan dihuni oleh mayoritas orang-orang tua. Piramida penduduk segera berubah bentuk, tidak piramida lagi. Berdasar Sensus penduduk tahun 2010, jumlah populasi lanjut usia adalah 18, 1 juta jiwa atau 9,6% dari total populasi dengan populasi tertinggi di Provinsi DIY yang mencapai 14,02%. Lebih dari ambang batas kewajaran populasi lanjut usia yaitu 7%. Dalam populasi dipetakan lanjut usia terlantar 15%, rawan terlantar 27%, dan tidak terlantar dan potensial 58%. Tetapi kenyataannya, yang potensial ini tidak banyak didayagunakan untuk kepentingan masyarakat dan pembangunan.

Apa yang bisa kita, generasi muda dan dewasa, perbuat untuk mereka di Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 29 Mei ini? Semangat harmonisasi tiga generasi (muda, dewasa, lanjut usia) telah dicanangkan pemerintah pada peringatan HLUN tahun lalu. Selain upaya pemberdayaan pada konteks pra lanjut usia dan lanjut usia potensial, kita harus kembali kepada semangat dan nilai keraifan budaya kita terhadap lanjut usia. Kita harus kembali berperilaku dan terbiasa untuk senantiasa menghormati, menyayangi, memprioritaskan, memperhatikan, dan merawat mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Pergeseran Definisi Keluarga

Menurut praktisi kelanjutusiaan Yogyakarta, Prof Siti Partini Suardiman SU—sebagaimana disampaikan dalam Sarasehan Pemberdayaan Kelompok Daerah Istimewa yang diselenggarakan oleh Komda Lansia DIY pada Kamis (21/03/ 2013) lalu,  tantangan dari semangat tersebut terbentur pada realitas sosial yaitu pergeseran defenisi keluarga. Keluarga besar (extended family) bergeser menjadi keluarga kecil (nuclear family). Dulu satu keluarga berisi belasan anggota yang bisa menjadi penjamin kehidupan bagi satu-dua anggota yang lanjut usia. Sekarang, suami istri, keluarga kecil menempati rumah yang kecil sehingga kurang kontak sosial dengan keluarga, masyarakat, dan teman-teman kerja. Kondisi ini akan berakumulasi pada sekian problem psikososial lanjut usia yaitu perasaan kesepian, terasing dari lingkungan, ketidakberdayaan, perasaan tidak berguna, kurang percaya diri, ketergantungan, ketelantaran (kemiskinan), termasuk post power syndrome menjadi puncak stagnasi proses kehidupan mereka. Perubahan komposisi sosial ini memerlukan adanya transformasi sosial. Dalam konteks Indonesia, proses transformasinya adalah upaya menumbuhkan kepedulian. Bisa dibayangkan kalau di satu lingkungan terdapat satu-dua lanjut usia terlantar, kemudian masyarakatnya secara rutin bergilir menyantuni kebutuhan harian dan sosialnya, puncak stagnasi itu akan menjadi cerita kekhawatiran belaka. Bukankah status sosial idaman seorang lanjut usia adalah panjang umur, berperan sosial, dihormati, tetap berguna, dan khusnul khotimah.

Perhatian terhadap Lanjut Usia

Dalam cerita di atas, generasi muda kurang bisa berpikir objektif terhadap semangat dan keinginan berdaya dari lanjut usia. Bahwa, ada suatu hal yang tidak bisa dielakkan dan suatu hal lain yang harus terus diupayakan dalam realitas kelanjutusiaan. Yang tidak bisa dielakan adalah bertambah usia, keterbatasan fisik, dan hal-hal lain yang mengiringinya. Sedangkan suatu hal besar yang bisa diupayakan dan menentukan kedepan adalah merubah paradigma berpikir terhadap kelanjutusiaan dengan kembali pada semangat kearifan budaya lokal dan membuat kebijakan yang memberdayakan semangat dan potensi mereka.

Perlu diingat, pada lanjut usia terdapat berbagai keunggulan yang tidak dimiliki oleh dua generasi lain; kearifan dan pengalaman panjang dalam kehidupan. Pada posisi ini, lanjut usia bisa menjadi konselor atau tempat curhat kearifan. Kearifan lanjut usia ini tercermin pada kemampuan mereka berkomunikasi secara simpatik, sabar, mendengar, jernih dalam berpikir, dan memandang masalah secara komprehensif sehingga bisa memuaskan semua. Inilah hakikat dari perhatian kepada mereka; memanusiakan. Memanusiakan adalah makna lain dari memberdayakan. Pemberdayaan (empowerment)  memiliki makna membangun daya dari luar dengan menstimulasi, merangsang, mendorong, memotivasi sesuai potensi yang dimiliki. Bagaimana potensi ketika masa produktif itu bisa terus berlanjut. Pemberdayaan ini dilakukan dalam dua hal yaitu power sebagai bangunan dasar dan empowerment sebagai bangunan atasnya. Karenanya, empowerment mesti dilandasi oleh power. Power yang dimaksud adalah potensi objektif lanjut usia. Maka pemberdayaan adalah upaya membangunkan, merealisasikan, dan mengembangkan daya yang sudah dimiliki.

Menurut psikologi positif Martin Seligman, kita harus menaruh perhatian pada hal yang sifatnya positif yaitu berpegang pada kekuatan manusia, kebajikan (virtue), dan tingkah laku optimal yang ada pada lanjut usia, bukan pada sisi negatif perilaku manusia. Bahwa salah satu kunci keberhasilan lanjut usia agar tetap aktif dan bahagia di usia senja adalah pemanfaatan potensi yang dimiliki, mandiri, dan berdaya sehingga berguna bagi yang lain. Perhatian kita kepada lanjut usia adalah bagaimana potensi ini agar awet, tidak didiamkan sehingga menghilang. Dalam filosofi tata nilai Jawa, kefiguran ideal sosok lanjut usia sering dinarasikan sebagai generasi yang memiliki kapasitas untuk memberikan tutur (nasehat kearifan), wuwur (‘sangu’ yang berarti ia harus mandiri secara finansial), dan sembur (doa dan dukungan bagi generasi berikutnya). Selamat HARI LANJUT USIA NASIONAL 2013.

Jen Fauzan, Pemerhati isu kelanjutusiaan di SurveyMETER dan bagian dari JALA Indonesia.