Laporan dari Seminar Nasional: Bersama Kita Wujudkan Lanjut Usia Berguna, Sejahtera dan Bahagia

(Menggagas Titik Temu Problematika Kelanjutusiaan dengan Problem Sosial, Ekonomi, Demografi, Kesehatan, Keorganisasian, Hukum dan Hak Asasi, dan Kepemudaan)

“Atas nama pemerintah saya menyampaikan penghargaan atas semangat saudara-saudara sekalian, baik sebagai pemrakarsa, penyelenggara, narasumber, maupun peserta dalam kegiatan seminar ini. Keikutsertaan saudara-saudara sekalian merupakan wujud nyata untuk berpartisipasi dalam kesejahteraan lanjut usia yang jumlahnya semakin meningkat. Semoga JALA Indonesia bisa menjadi partner pemerintah didalam menuju cita-citanya untuk mewujudkan lansia Indonesia yang berguna, sejahtera dan bahagia.”

Demikian diantaranya, kata sambutan dari Menkokesra RI HR Agung Laksono yang dibacakan oleh Sekretaris Kemenkokesra, Drs Sugihartatmo MPIA dalam pembukaan Seminar Nasional “Bersama Kita Wujudkan Lanjut Usia Berguna, Sejahtera dan Bahagia” Selasa (4/6/2013) di Hotel Melia Purosani Yogyakarta. Seminar yang diikuti lebih dari 130 peserta ini digagas Jaringan Pemerhati Lanjut Usia Indonesia (JALA Indonesia) bekerjasama dengan Kemenkokesra RI dan Knowlegde Sector AUSAID. Kegiatan ini merupakan kegiatan besar pertama setelah JALA Indonesia didirikan oleh para penggagas pada 15 Februari 2013 sekaligus pencanangan dan peresmian JALA Indonesia oleh Kemenkokesra.

Seminar ini dikemas dalam 2 diskusi panel. Panel 1 dengan moderator Prof Dr Siti Partini Suardiman SU (Penggagas JAlA Indonesia, Praktisi Kelanjutusiaan dan Anggota Komda Lansia DIY) menyajikan materi Menjadi Lansia yang Bugar dan Produktif oleh dr Fatimah SP.Ko (Asisten Deputi Olahraga Layanan Khusus Kementerian Pemuda dan Olahraga), Kerugian dan Manfaat Penuaan Penduduk oleh Dr Aris Ananta PhD (Senior Research Fellow Institute of Southeast Asian Studies Singapore), Membangun dan Memanfaatkan Jaringan dan pengembangan Organisasinya oleh Meth. Kusumahadi (Ketua Dewan Pembina Yayasan SATUNAMA Yoyakarta), Hak-hak Hukum Lansia bagi Harmoni Kehidupan dalam Perspektif HAM oleh Prof Dr Abdul Munir Mulkhan SU (Komisioner Komnas HAM RI 2007-2012, Wasekjen PP Muhammadiyah 2000-2005, dan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Panel 2 dengan moderator Prof Dr dr Luh  Ketut Suryani, SpKJ (Penggagas JALA Indonesia dan Ketua Yayasan Wredha Sejahtera (YWS) dan Suryani Institute Bali) menyajikan materi Pemerdayaan Ekonomi Penduduk Lanjut Usia oleh Dr Evi Nurvidya Arifin (Institute of South East Asian Study (ISEAS) Singapore), Lanjut Usia SETAMAN (Sehat, Senang, Terhormat, Mandiri, dan Manfaat) dari Sisi Medis Terapan oleh dr Probosuseno,SpPD, K-Ger (Klinik Geriatri RSUP Dr Sardjito/ Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UGM, PB PERGEMI), dan Pelayanan Prima untuk Mewujudkan Lansia Bermartabat oleh H Sudiman Sag, MPd.I (Ketua Orsos Lansia “MELATI” Sleman dan Field Koord HOME CARE Lansia Yogyakarta). Rumusan kesimpulan seminar dan Langkah Lanjut dari dua panel ini disampaikan oleh Prof Dr Tri Budi W Rahardjo. Agenda seminar ini ditutup dengan rapat intern penggagas JALA Indonesia untuk merumuskan bagaimana JALA Indonesia ini ke depan.

Sebelum sambutan dari Kemenkokesra tersebut, Ibu Bondan Sikoki SE, MA selaku Ketua JALA Indonesia dalam sambutannya menyampaikan laporan yang berisi tentang sekilas sejarah berdirinya JALA Indonesia, penggagas dan pengurus, visi misi, dan strategi jaringan. Ibu Bondan juga menyampaikan diantara kegiatan yang telah dirintis sejak berdirinya JALA Indonesia pada 15 Februari 2013 tersebut adalah:

  • Membuat Website JALA Indonesia yang launching pada 15 Maret 2013
  • Pemutakhiran (updating) kegiatan-kegiatan anggota di website
  • Menerbitkan Buletin  SUARA LANSIA Edisi Perdana April 2013
  • Audiensi kepada pemangku kebijakan kota ramah lanjut usia dalam bentuk presentasi hasil penelitia di Kota Surabaya (6 Maret 2013) dan Payakumbuh (6 Mei 2013)
  • Koordinasi dan mengikuti kegiatan sarasehan Komda DIY pada 21 Maret 2013 dan peringatan HLUN DIY pada Minggu (19/04/2013) di Kawasan Pantai Goa Cemara Bantul Yogyakarta

Pada kesempatan ini juga, Sesmenkokesra mewakili Menkokesra secara resmi mencanangkan JALA Indonesia dengan pembukaan slide show JALA Indonesia dan membuka seminar dengan pemukulan gong. Agenda kegiatan dan pemateri seminar mengalami perubahan dari yang dirilis sehari sebelumnya dikarenakan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, HR Agung Laksono, dan Menteri Pemuda dan Olah Raga RI, KRMT Roy Suryo, mengurungkan kehadirannya pada malam hari menjelang acara karena mendadak dipanggil oleh Presiden RI sepulang kunjungan kenegaraan ke beberapa negara  di Eropa.

Pada agenda sehari sebelumnya—yang terlanjur dirilis JALA Indonesia ke sekian lembaga, peserta, dan media— Menpora, KRMT Roy Suryo, diagendakan akan membuka Seminar, memberikan materi Meningkatkan Cinta Kasih Pemuda  pada Lanjut Usia pada Sesi Panel 1 dan secara simbolis akan mengawali acara Gerakan Cinta Kasih Pemuda  kepada Lanjut Usia. Sementara Menkokesra –yang jauh hari telah mengonfirmasikan kehadirannya pada siang hari—diagendakan akan memberikan pengarahan dan pencanangan JALA Indonesia.

Meski demikian rangkaian acara seminar tetap berlangsung meriah dan lancar karena menghadirkan tema dan gagasan seminar panel yang berbeda serta pembicara yang pakar di bidangnya. Gagasan yang dimaksud adalah mempertemukan problematika kelanjutusiaan di Indonesia dengan problem sosial, ekonomi, demografi, kesehatan, keorganisasian, hukum dan hak asasi, dan kepemudaan.

 

Intisari Materi Seminar

Beberapa pandangan yang mengemuka dalam seminar tersebut antara lain. Pada sesi panel 1, Dr Aris Ananta PhD mengemukakan bahwa dampak dari peledakan lanjut usia secara ekonomi tidak akan menghasilkan “uang” bagi negara. Sedangkan pensiun dan sistem asuransi belum memadai. Pertanyaan besarnya, siapa yang mengurus mereka secara fisik, mental serta ekonomi? Tetapi di sisi lain, sebenarnya, terdapat peluang bisnis yang bisa diraih melalui program active ageing (sehat, independen, produktif dan bergaya). Apalagi lanjut usia memiliki implikasi dan kekuatan politik dalam kehidupan di Indonesia (older person power).

Sementara dr Fatimah SP.Ko mengajak untuk membenahi cara berpikir pemuda terhadap lanjut usia sebagai awal dari Gerakan Cinta Kasih Pemuda Kepada Lanjut Usia. Menurut Fatimah, saatnya pemuda lebih memperhatikan lansia karena pada saatnya juga mereka akan menjadi lansia. Karena menjadi tua adalah fitrah. Secara kelembagaan, menurut dr Fatimah, Kemenpora sudah memperhatikan kepentingan olah raga lansia, dengan membentuk subbid olah raga layanan khusus dengan nama olah raga layanan khusus yaitu kelompok yang perlu penanganan khusus termasuk  lansia.

Sementara Prof Dr Abdul Munir Mulkhan SU mengawali materinya seputar perlindungan dan bantuan hukum lanjut usia dengan mengutip ayat Al-quran bahwa menghormati lansia memiliki nilai spiritualitas luhur karena lansia mempunyai posisi khusus di hadapan Tuhan. Di lain sisi, hak asasi dan hukum lansia karena lansia adalah manusia yang melekat padanya juga hak-hak dasarnya sebagai manusia. Berarti ada hak hak hukum yang harus dipenuhi. Pada perkembangan dulu hingga kekinian, berbagai landasan hukum mulai dari UUD 45 sampai dengan berbagai UU dan konvensi Pemberdayaan Ekonomi Penduduk Lanjut Usia.

Mengawali Sesi 2, Dr Evi Nurvidya Arifin mengungkapkan, kondisi lanjut usia di Indonesia berbeda dengan Negara berpopulasi lanjut usia lain. Di Indonesia persentase lanjut usia yang masih aktif bekerja dan makin mandiri sangat tinggi. Tetapi, dengan melihat contoh proporsi lansia di DIY (dengan tertinggi di Kabupaten Gunung Kidul) dan angka kemiskinan juga cukup tinggi, secara teori demografi ekonomi perlu penanganan khusus dengan adanya kesenjangan sangat tinggi antara yang miskin dan yang kaya.

Sementara dari sisi kesehatan, menurut dr Probosuseno,SpPD, K-Ger, dalam upaya mewujudkan lanjut usia yang SETAMAN, yang harus disadari semua orang adalah kemampuan tubuh manusia akan berkurang 1% per tahun setelah umur 30 tahun. Karenanya lanjut usia harus dilatih menjadi mandiri (jasmani, rohani, dan sosial ekonomi) pra lansia (bahkan usia dini). Di sisi lain, menurut H Sudiman SAg, MPd.I, karena lansia memiliki kelebihan pengalaman, pengetahuan, dan kearifan sementara kekurangannya adalah seputar kemunduran fisik, malnutrisi, perasaan kesepian, berkurangnya penghasilan dan terbatasnya interaksi sosial, maka harus ada upaya bersama untuk menciptakan pelayanan prima demi mewujudkan lansia bermartabat dengan pelayanan masyarakat berbasis “Ngaruhke” (memperhatikan) lanjut usia.

Dengan berbagai sisi pandang kelanjutusiaan tersebut, upaya mendorong terwujudnya  Perda Lanjut Usia di seluruh propinsi adalah tugas dari semua pemangku kepentingan lanjut usia. Karena untuk mewujudkan  lanjut usia yang berguna, sejahtera dan bahagia membutuhkan dukungan politis secara internasional dan nasional. Dukungan pemerhati dan pelaku dari segi pelayanan, pendidikan dan penelitian. Salah satunya dengan membuat dan memperkuat jejaring yang ada. Sebagaimana disampaikan Pak Meth. Kusumahadi di sesi 1 JALA Indonesia digagas sebagai jaringan yang tidak berbasis pada individu tetapi akses bagi anggota, lembaga, dan siapapun sangat terbuka. Karena dasar motivasi pembentukan jaringan adalah kebutuhan dan harapan lanjut usia yang menunggu dukungan bersama untuk mewujudkan mereka yang berguna, sejahtera dan bahagia.

So, mari bergabung dan berbagi di JALA Indonesia. (JF)