Desiminasi Studi Penilaian Kapasitas Kota Ramah Lanjut Usia di Payakumbuh

Setelah  menyelesaikan  kegiatan  lapangan  dan  olah  data, dari SurveyMETER dan CAS UI mulai melakukan rangkaian kegiatan desiminasi hasil Studi Penilaian Kapasitas Kota Ramah Lanjut Usia dalam bentuk  presentasi  langsung  di  hadapan  pemangku  kebijakan  di  masing-masing  kota  sampel studi. Kota yang pertamakali disinggahi adalah Kota Payakumbuh, Sumatera Barat pada Senin (6/05/2013).

Kegiatan Desiminasi di Kota Payakumbuh ini dikemas dalam acara Workshop terbatas dengan tema  “Satu Langkah Menuju Impian Lanjut Usia Kota Ramah lanjut Usia 2030”. Workshop digelar di ruang rapat lantai 2 Kantor Balaikota di Bukik Sibaluik Payakumbuh. Pemateri workshop merupakan perwakilan Tim Studi yaitu Dr. N W Suriastini M Phil, Direktur Eksekutif SurveyMETER, yang memaparkan hasil studi dalam judul “Satu Langkah Menuju Impian Lanjut Usia Kota Ramah lanjut Usia 2030” dan dr. Retty Irwan MPH dan CAS UI yang menyampaikan materi “Potret Lanjut Usia, Komitmen Nasional Komitmen Global”. Peserta workshop sendiri adalah perwakilan pemangku kepentingan di Kota Payakumbuh diantaranya Staf Ahli Walikota Bidang Pendidikan dan SDM Drs. Edvianus, Sekretaris Bappeda Ir. Ismet Ibrahim, M.Si, Ketua Harian Komda Lansia Payakumbuh H. Syamsuar, BA, Kepala Bidang Sosial Budaya Bappeda Yulfah Riyanti SS, MSi, dan sejumlah pimpinan SKPD lainnya.

Tujuan Workshop ini untuk memaparkan dan menyampaikan hasil studi yang telah dilakukan di Kota Payakumbuh berkaitan dengan dimensi-dimensi kota ramah lanjut usia yang harus dipenuhi oleh suatu kota untuk dapat mewujudkan kota yang ramah terhadap lanjut usia. Ke delapan dimensi/pedoman dari WHO tersebut adalah: 1. Gedung dan Ruang Terbuka (building and outdoor space), 2. Transportasi (transportation), 3. Perumahan (housing), 4. Partisipasi Sosial (social participation), 5. Penghormatan dan Inklusi Sosial (respect and social inclusion), 6. Partisipasi Sipil dan Pekerjaan (civil participation and employment), 7. Komunikasi dan Infromasi (communicationand information), dan 8. Dukungan Komunitas dan Pelayanan Kesehatan (community support and health services). Dari penilaian 8 dimensi tersebut, sebagaimana disampaikan Dr N W Suriastini M Phil, pencapaian Kota Payakumbuh mencapai total skor 55.1%. Dari hasil tersebut bisa dikatakan pencapaian Kota Payakumbuh sudah masuk ketegori cukup baik (warna kuning).

Menanggapi adanya kegiatan dan hasil dari Workshop tersebut pemerintah Kota Payakumbuh sangat gembira dan antusias karena dengan hasil studi ini bisa mempermudah pemerintah Kota Payakumbuh dalam melakukan kegiatan dan program-program kelanjutan dalam mewujudkan Kota Ramah Lanjut Usia. Pemerintah Kota Payakumbuh juga mempunyai komitmen sebelum tahun 2030, Kota Payakumbuh akan menjadi Kota Ramah Lanjut Usia dengan dukungan dan kerjasama semua stakeholder terkait. Pemerintah kota payakumbuh juga mengucapkan banyak terima kasih atas adanya studi dan workhop menganai Kota ramah lanjut usia tersebut. Kegiatan Workshop ini diliput dan dipublikasikan oleh beberapa media lokal di Sumatera Barat dan Kota Payakumbuh.

Pada kesempatan Workshop ini Tim Studi menyampaikan bahwa kapasitas tim peneliti hanya melakukan dan menyampaikan hasil studi secara independen tidak dalam kapasitas untuk merekomendasikan sampel kota-kota yang diteliti sebagai kota ramah lanjut usia atau bukan. Pengajuan suatu kota yang merasa sudah memenuhi kriteria minimal dari 8 dimensi tersebut untuk menjadi kota ramah lanjut usia kepada WHO adalah kewenangan dari kota yang bersangkutan.(EDM)