Sarasehan Pemberdayaan Lanjut Usia Komda Lansia DIY

Kamis (21/03/ 2013) Komisi Daerah (Komda) Lanjut Usia Daerah Istimewa Yogyakarta  menggelar sarasehan dengan tema Pemberdayaan Kelompok Lanjut Usia Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini bertempat di Rumah Makan Den Nany Tamansiswa.

Kegiatan ini merupakan salah satu agenda rutin Komda DIY yang dimaksudkan untuk menyikapi problem kelanjutusiaan di DIY yang secara populasi menempati urutan pertama di Indonesia. Selain itu, sarasehan ini juga dimaksudkan untuk memberikan masukan kepada pemerintah daerah terkait program-program kelanjutusiaan. Dua pembicara tampil sarasehan ini yaitu dr. Probosuseno, SpPD, K-Ger, FINASIM yang memaparkan presentasi dengan judul “Manfaat Pemberdayaan Kelompok Lanjut Usia” dan Prof.Dr.Siti Partini Suardiman, SU yang mempresentasikan “Pemberdayaan Kelompok Lanjut Usia”.  Acara ini dipandu oleh moderator perwakilan dari Dinsos DIY.

Hadiri pada acara tersebut perwakilan dari Komnas Lansia, Kemensos RI, Bina Keluarga Lansia BKKBN, Dinsos DIY, Komda Lanjut Usia Kabupaten/Kota, PWRI DIY/Kabupaten/Kota, PEPABRI DIY/Kabupaten/Kota, Ikatan Keluarga PTM, Paguyuban Wehrkreis Daerah Perlawanan III Yogyakarta, Keluarga eks Tentara Pelajar Sala di Yogyakarta, Paguyuban Adi Yuswo Ngesti Rahayu, Paguyuban WULAN, Kraton Yogyakarta, Werdho Among Mulyo, Werdho Kusumo, Paguyuban Guyub Mukti, Paguyuban Adisiana, Jaringan Pemerhati Lanjut Usia Indonesia (JALA Indonesia), dan pengurus Komda Lanjut Usia DIY.

Dalam makalahnya Siti Partini menyoroti masalah lanjut usia dilihat dari masalah sosial, ekonomi, dan psikologis yang selama ini menjadi permasalahan yang dihadapi lanjut usia dan masih kurang dipahami dengan betul oleh berbagai kalangan umumnya. Siti Partini juga menekankan, dalam hal pemberdayaan lansia tidak hanya berhubungan dengan pemberian modal saja tetapi yang perlu mulai dipikirkan adalah pemerintah harus mulai melakukan program-program atau kebijakan yang mendukung para lanjut usia untuk mendapatkan hak yang baik. “Misalnya, masuk objek-objek wisata gratis, penyediaan tempat berkumpul untuk lanjut usia untuk berkreasi dan berkomunikasi dengan sesamanya, dan sarana tranportasi yang ramah lanjut usia,” papar Siti Partini memberikan contoh.

Sementara Probosuseno, lebih menekankan pada masalah kesehatan lanjut usia. Menurut Probo, program-program pemerintah dalam bidang kesehatan harus lebih memperhatikan kelompok lanjut usia.  Misalnya, menurut Probo, perlu diadakannya pelatihan terhadap kader-kader lanjut usia yang berisi pengetahuan dan ketrampilan dalam pencegahan penyakit lanjut usia. Probo juga mengusulkan perlunya kegiatan semacam “Malam Amal Lanjut Usia” di D.I  Yogyakarta karena selama ini belum pernah ada kegiatan seperti itu. “Secara praktis, adanya kegiatan ini akan lebih membantu lanjut usia di bidang kesehatan atau ekonomi,” jelas Probo memberi argumen.

Pada akhir acara, setelah adanya tanggapan dan masukan dari peserta sarasehan, moderator menyimpulkan ada tiga poin penting yang diambil dari sarasehan ini yaitu: pedoman lanjut usia tetap dilanjutkan dan ditingkatkan, kegiatan lanjut usia di tingkat kelompok-kelompok perlu ditingkatkan, dan data-data yang berkaitan dengan lanjut usia dari masing-masing kelompok lanjut usia perlu dilengkapi. (Endra Dwi M)