PENILAIAN KEBUTUHAN LANJUT USIA KOTA SURABAYA

Rabu (06/03) yang lalu, bertempat di ruang sidang sekretaris daerah Kota Surabaya digelar acara Presentasi Penelitian “Penilaian Kebutuhan Lanjut Usia atas Kota Ramah Lansia.” Penelitian tersebut difasilitasi oleh tim peneliti Fakultas Psikologi Universitas Surabaya dan Centre for Ageing Studies (CAS) Universitas Indonesia dengan pendekatan kualitatif dengan metode focus group discussion (FGD). Peserta diskusi merupakan para pemangku kepentingan dan kebijakan kelanjutusiaan di Kota Surabaya terdiri dari SKPD, Badan, Kepala Bagian, Dinas, UPTD, Camat, Karang Werdha, dan perwakilan Yayasan Kelanjutusiaan.

Presentasi ini dihadiri oleh tim peneliti dari Fakultas Psikologi Universitas Surabaya dan CAS UI, Asisten Kesra, BAPPEKO, Dinas Sosial, Ketua UPTD Griya Werda Surabaya, dan Dr N W Suriastini MPhil dari SurveyMETER yang juga sebagai sekretaris JALA Indonesia. Pembicara utama pada presentasi ini adalah Prof Dr Jatie K Pudjibudojo SU, Psi dari tim peneliti Fakultas Psikologi Universitas Surabaya dan Prof Tri Budi W Raharjo dari CAS UI. Bertindak sebagai moderator adalah Asisten Kesra Kota Surabaya, Drs Eko Haryanto MM. Dalam pemaparnnya Prof Tri menyebutkan bahwa dasar penelitian ini mengacu pada 8 dimensi standar kota ramah lansia yang ditetapkan oleh WHO dan 5 prinsip lanjut usia dari PBB yaitu Independen, pertisipasi, perawatan, self fulfillment, dan martabat. “Kenapa Kota Surabaya yang dipilih? Karena Surabaya merupakan contoh yang baik bagi kota ramah lansia yang didukung oleh pemerintah kotanya,” jelas Prof Tri.

Selanjutnya Prof Jatie memaparkan poin-poin hasil FGD mengenai 8 dimensi age-friendly city dari Kota Surabaya. Prof Jatie juga menyampaikan kesimpulan dimana masing-masing dimensi disimpulkan mengenai tiga hal yaitu: kondisi saat ini, kendala, dan saran/masukan. “Penelitian dengan teknik FGD ini akan kita tindaklanjuti dengan penelitian dengan topik active ageing atau penuanan pada lansia yang aktif dan bagaimana membuat lansia tidak menjadi beban,” papar Prof Jatie sembari menjelaskan penelitian lanjutan ini juga akan dilakukan oleh Fakultas Psikologi Universitas Surabaya dan CAS UI.

Menanggapi pemaparan hasil penelitian ini, perwakilan BAPPEKO Surabaya, Eko Widodo, mengatakan bahwa hasil penelitian tersebut secara bertahap bisa dimasukkan dalam RPJMP yang tenggang waktunya 25 tahun dan RPJMD yang tenggang waktunya 5 tahun serta akan dituangkan dalam rencana kerja satu tahunan dalam KUA dan PPAS. Menurut Eko, untuk aplikasi ke lapangan, Walikota Surabaya, Ir Tri Rismaharini MT, turun langsung ke sekolah-sekolah untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak sejak usia sekolah atau usia dini untuk menghormati dan menghargai orang lebih tua dengan menanamkan nilai-nilai budi pekerti dalam setiap pelajaran dan pendidikan di sekolah. Saat ini Dinas Pendidikan Kota Surabaya merancang kurikulum muatan lokal yang mencakup pentingnya menanamkan nilai-nilai budi pekerti disekolah dasar dan menengah dalam menghormati dan menghargai orang yang lebih tua. Tetapi Eko juga mengakui bahwa saat ini masih banyak ditemui kendala di lapangan. Menurut Eko, terkadang kendala dan permasalahan yang muncul bukan hanya menjadi wewenang dari pemerintah kota tetapi juga DPRD dan pemangku kebijakan lainnya namun imbas dan tanggung jawabnya ke pemerintah. “Untuk menerapkan 8 dimensi kota ramah lansia ini terkandala oleh regulasi hukum dan undang-undang. Misalnya, masalah perumahan saat ini masih menggunakan undang-undang yang lama yang tidak mengatur bangunan standar untuk lansia. Bangunan yang diatur dalam undang-undang lama merupakan bangunan pada umumnya,” jelas Eko.

Pada bagian lain Prof Jatie meminta Dr N W Suriastini  MPhil untuk menjelaskan penelitian yang sedang dilakukan SurveyMETER yaitu Studi Asesmen Kapasitas Kota Ramah Lansia di 14 kota dimana Surabaya adalah satu diantaranya. Mengawali penjelasannya, Suriastini menyampaikan bahwa penelitian itu dilakukan SurveyMETER bekerjasama dengan CAS UI. Studi ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif sekaligus. Kenapa Surabaya salah satu sampelnya? Menurut Suriastini, karena Surabaya sebagai best practice dari age-friendly city mewakili klasifikasi kota besar. “Data hasil studi ini bisa digunakan sebagai rujukan bagi Pemerintah Kota Surabaya; bagaimana sebenarnya penilaian dan apa yang dirasakan oleh masyarakat lanjut usia, pra lanjut usia dan SKPD Kota Surabaya atas   delapan domain kehidupan perkotaan yang bisa mempengaruhi kesehatan serta kualitas kehidupan para lansia baik secara kualitas maupun kuantitas. Hasil dari studi ini akan disampaikan di forum seperti ini di Surabaya dan kota lain di bulan April atau Mei mendatang mengingat sekarang baru memasuki tahap akhir proses pengumpulan data di lapangan,” papar Suriastini saat diminta untuk menyampaikan perkembangan penelitiannya. (HN/JF)